<--------------
-------------->
Widget by darwisroland

Selamat Datang di Website Darwis Roland Semoga Dapat Membantu Anda | Jangan Lupa Like dan Tinggalkan Kritik dan Saran Anda Pada Kotak Pesan Disamping Kanan |

This is My favorit Club Football

Im Madrista, Hala Madrid !!!

This is Live

Allah Bless You.

This is My Family

Mereka adalah semangatku untuk tidak menyerah melewati cobaan hidup.

Music is My Live

Bisa main musik walau tidak mahir.

Kamis, 18 Desember 2014

Pengertian Audit dalam Islam

Berdasarkan AAOIFI-GSIFI 3, bahwa  audit syariah adalah laporan internal syariahyang bersifat independen atau bagian dari audit internal yang melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan aturan syariah, fatwa-fatwa, instruksi dan lain sebagainya yang diterbitkan fatwa IFI dan lembaga supervisi syariah.
Menurut Shafi : 2004, auditing dalam Islam adalah :
Proses menghitung, memeriksa dan memonitor (proses sistematis)
Tindakan seseorang(pekerjaan duniawi atau amal ibadah)
Lengkap dan sesuai syariah
Untuk mendapat reward dari Allah di akhirat

Menurut definisi tersebut maka pengertian audit dalam Islam adalah salah satu unsur meluli pendekatan administratif. Maka administrasi menggunakan sudut pandang keterwakilan. Oleh karena itu, ia (auditor) merupakan wakil dari para pemegang saham yang menginginkan pekerjaan (investasi) mereka sesuai dengan hukum-hukum syariat Islam.

Tujuan audit dalam Islam :
Untuk menilai tingkat penyelesaian (progress of completness) dari suatu tindakan
Untuk memperbaiki (koreksi) kesalahan
Memberikan reward (ganjaran baik) atas keberhasilan pekerjaan
Memberikan punishment (ganjaran buruk) untuk kegagalan pekerjaan

Audit dalam Al-Qur’an
Ternyata didalam al-qur’an sendiri sudah teridentifikasi sebagai suatu proses audit. Seperti dalam surat Al-Insyiqaq ayat 6-9, bahwasanya Allah akan menghisab setiap manusia di hari akhir. Bagi yang menerima cataran amalnya ditangan kanan, maka ia akan dihisab dengan mudah dan akan diberikan kebahagiaan.
Begitupun halnya tercatat dalam kitab suci pada surat Al-Infithar ayat 10-12. Sejatinya disisi manusia ada malaikat sebagai pencatat amal-amalnya di dunia. Entah itu amal baik maupun buruk. Mereka (para malaikat) ini mengetahui apa saja yang manusia lakukan. Catatan inilah yang akan menjadi penimbang seseorang di yaumul mizan.

Selanjutnya dalam surat An-Naml ayat 20-21, dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman a.s melakukan pengecekan untuk mencari  Hud-Hud, seekor burung peliharaan.  Ketidakhadiran Hud-Hud dapat dikenakan sanksi oleh Nabi Sulaiman a.s berupa hukuman berat. Dalam ayat selanjutnya terungkap bahwa absennya Hud-hud disebabkan perjalanannya ke negeri  Saba. Sebuah negeri yang dipimpin seorang ratu musyrik penyembah matahari.

Cerita di Balik Kisah Pembuatan Wajan Bolic

Sebelumnya perkenalkan nama saya Muhamad Darwis Roland, biasa di pangggil darwis. Berikut ini ceritaku tentang pembuatan wajan bolic. Jumat siang hari sehabis juamatan, aku sempatkan untuk makan diwarung langganan bersama tiga temanku si Riyan, andi dan pay  untuk mengisi perut. Belumlah  selesai mkanan ku habis ada sms di hape ku yang butut (maklum hp keramat jadi disayang sayang wkwkwk).
“diaman mas, saya sudah diruangan” kata pak agha
“apa??, mati aku dosen dah diruangan mana masih makan” pikirku dalam hati.
Mendengar kabar itu segera aku beri kabar teman-teman sekelas bahwa dosen sudah masuk.
Sambil aku selesaikan makan dengan buru-buru.
“ oy , cepet yo gaenak aku dosenya dah masuk” ajukan pada ketiga temanku tadi.
“apa ? yoohh masih makan ini lo, yadah kamu duluan ajawis aku nelat dikitlah sama andi” kata riyan
Setelah selesai segera aku ajak pay untuk berangkat masuk kelas dengan tergesa gesa.
Sesampainya dikelas saya sudah lumayan banyak teman yang sudah masuk.
“Asslamuallaikum, maaf pak telat “ ujarku dengan suara lantang
“Walaikumsallam, yasudah masuk lah” seru pak agha.
Tak lama kemudian kuliah dimulai dan si riyan dan andi suadah masuk menyusulku kekelas.
Pada awal kuliah pak aga mengintruksikan kepada kami bhwasanya minggu depan kami diberi tugas untuk membuat wajan bolic.
“Haaa wajan bolik, apa ya itu?? mau masak apa wkwkwk” dalam hatiku
Setlah dijelaskan asdos pak agha yaitu kak feri(bukan nama samaran) kami baru tahu wajan bolic itu adalah alat untuk menguatkan signal internet pada daerah-daerah yang lemah signal internetnya.
Pada hari itu juga kami sepakat bahwa praktek akan dilaksanakan sabtu depan disiang hari, sekaligus kami di beri tahu apa-apa saja yang harus disiapkan dan dibawa, dan apesnya teman-teman sekelas mengamnahkan kepada saya untuk mebeli bahan dan alat untuk wajan bolic kecuali wajan dan kabel usbnya. Yah apalah daya karna aku anak yang baik, tidak sombong, suka menolong, rajin menabung dan juga boros hahah, aku terima juga amanah itu.
Seminggu telah berlalu, bahan dan alat wajan bolic kami sudah siap dan tidak sabar untuk bertempur mambuat wajan bolic wkwkkw. Namun, siang itu tejadi hujan yang lumayan deras sehingga membuat acara praktekpun sedikit tertunda. Tapi, untunglah hujan pun reda kami sudah bisa memulai praktik setelah kakak-kakak asdos datang.
Ditengah tengah pembuatan terjadi insiden salah ukur.
“ alamak” teriaku
“kenapa, wis” tanya temanku heran.
“ aku sala ukur, paralonya kependekan.” Keluhku.
“ yoh kok bisa lo” tanyanya lagi
“iya ternyata meteranya kepotong jadi hilang 5cm” jelasku padanya.

Tetapi untung saja paralonya pun masih banayk yang sisa dan wajan bolic kami pun selesai tepat waktu karna kerja sama kelompok kami yang sangat baik.
Dan bagi teman teman yang ingin belajar membuat wjan bolic silahkantonton tutorialnya dibawah ini.
             

 TErima kasih banyakkk :) :) :) :) :) :) :)

Mengenai Saya

Tanpa banayk basa basi, perkenalkan :

Nama : Muhamad Darwis Rolan
Umur : 20 th
NPM : 1295558
Prodi : PBS
TTL : Baturaja, 23 Juli 1994
Alamat : jl.sastro swito no 11 rt/rw 007/002 kel . ganjar asri kec.metro barat.

Saya adalah mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro, prdi PBS angkatan '12. semoga apa yang saya bagikan berguna untuk anda. dan mohon tinggalkan kritik dan saran pada kolom komentar. Terima Kasih Banyak

Rindu pada Ayah


Dikala gelap kau berikan cahaya
Memberi ketenangan dalam jiwa
Meski kini kau telah tiada
Kehangatanmu kan selalu terasa

Ayah kuharap kau kan selalu bahagia
Dipenuhi rasa cinta yang ada
Do’a anakmu kan selalu ada
Bagai hujan membaasahi dunia

Ingin rasanya kuberjumpa denganmu
Karna rindu telah menggerogoti hatiku
Namun semua hanya tabu bagiku
Sebelum ajal kan menjemputku

Janjiku pada IBU



Memang kadang hidup itu tak sempurna dan seindah yang kita inginkan. Tapi apa daya kita sebagai manusia hanya bisa menerima takdir dari tuhan dan selalu berusaha. Cerita ini berawal dari hidup ku yang hidup dari sebuah keluarga yang sederhana. Orang tua ku memberiku nama Putri, ayah memberi ku nama Putri karena alasan, aku adalah anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara. Aku hidup disebuah desa di daerah sumatra selatan yaitu sebuah desa yang bernama Betung, ayah dan ibu adalah asli orang Komring. Mungkin kalian banyak yang belum tau suku Komring, suku Komring adalah suku asli dari sumatra selatan yang sangat kental dengan budayanya.

Memang benar kata ku sebelumnya, hidup tidak lah sempurna dan seindah yang kita inginkn. Itu terbukti orang yang sangat aku sayang dan cinta, yaitu ibuku meningalkan kami sekeluarga untuk selamanya karena penyakit yang sudah bersarang lama ditubuhnya. Memang berat rasanya untuk terima dan ikhlas dengan kematian ibuku, saat itu aku masih duduk di kelas dua SD. Teringat semua kenangan dengan ibu yang tidak mungkin ku lupakan terutama pesan terakhir dari ibu yang memang terasa aneh bagiku, mungkin ibu sudah merasakan bahwa hidupnya sudah tak lama lagi.
" Menjadi perempuan bukan lah mudah, banyak yang harus kau jaga, tahu kan?,jadi haga dirimu dan jaga juga adikmu" kata ibu pada ku saat itu, dan ku hanya menganggukan kepala.
" Dan satu lagi ibadah adalah bekal kita nanti, jadi jangan lah kau lalaikan perintah agama" begitu lanjut ibu.
Terkenenang semua kenangan itu tanpa terasa air mata turun dari mata ku mengalir bagaikan derasnya sungai yang membanjiri pipiku. Dalam hati ku berjanji.
" Baik bu semua pesanmu pasti akan teringat dan ku terapkan dalam hidup ku ini".

            Telah seminggu sudah ibu meninggalkan kami sedih masih menyelimutiku,
kala teringat pada ibu. Terutama saat ku melihat adikku yang masih kecil, rasa iba ku pun menjadi tangis dalam hidupku, akan kah aku bisa membahagiakanya.
" Rohman sini dulu." panggil ku pada adiku.
" Iya kak rohman kesitu"katanya.
" Kamu yang kuat ya sayang kakak pasti akan menjaga mu dan menjadi ibu ke-dua buat mu"kata ku pada rohman.
" iya kak terima kasih, kapan ya kak kita bsa ketemu lagi dengan ibu, rohman rindu sekali dengan ibu?" tanyanya dengan polos.
Aku yang mendengarpun semakin terpukul dan menangis sambil memeluk adikku erat-erat.
" Sebetulnya kakak juga rindu dengan ibu, tapi sekarng belum saatnya kita ketemu dengan ibu. Tugas kita sekarang adalah menjadi anak sholeh sehingga bisa mendo'akan ibu dari sini".

Hal yang aku takutkan pun terjadi, ayah akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan pilihanya. Dengan alasan akan ada yang mengurus rumah sekaligus menjadi ibu baru buat kami. Sempat ku merasa tidak terima dengan menikahnya ayah tapi apa daya, semua keinginan ku pun tak mungkin akan terwujujud. Akhirnya kamipun harus terima kalau kami punya ibu tiri. Seperti yang aku takuti dulu ternyata setelah beberapa bulan ayah menikah dengannya, semua kejelekan dan kekejaman ibu tiri kupun terlihat semua. Akupun sering dimaki-maki tanpa alasan yang pasti, apalagi dia selalu menjelek-jelekan ku didepan ayah. Ayah yang tak tau apa-apapun sudah pasti memarahiku. Hingga suatu hari ayah memberi keputusan yang sangat ku tidak terima. Aku harus di berhentikan sekolah dengan berbagai alasan yang, saat itu sekolahku harus putus di kelas empat SD.
" Sanak bay donti, ahirna begawina dilom dapur, jadi guai api haga sekolah. Lagi pula ekonomi kita mak sanggup haga nyekolahko niku." begitu kata ayah menggunakan bahasa komring yang artinya
" Anak perempuan akhirnya nanti juga akan kerja didapur, jadi buat apa kau sekolah. Lagi pula ekonomi kita tak sanggup untuk menyekolah kan mu".
Aku yang tak berdayapun hanya bisa terima kenyataan dan menangisi keadaan. Sempat ku berpikir apakah semua ini hasutan jahat dari ibu tiri ku, tapi sudah lah nasi sudah menjadi bubur aku harus terima semua kenyataan ini.

            Hingga suatu hari merasa diriku sudah tidak berguna jika hanya diam dirumah dan hanya akan membuatku menderita makan hati karena cacian ibu tiriku. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dan ikut nenek untuk mencari kerja di kota dimana nenek tinggal. Memang berat rasanya apa lagi aku harus meninggalkan rohman dirumah dengan ibu tiriku, namun harus berani kujalani, kan akhirnya ku bekerja hasilnya untuk adiku juga ,agar nasibnya tidak akan sama dengan ku.
" Man, kakak pergi dulu ikut nenek untuk cari kerja" kataku pada rohman sambil menangis, yang saat itu dia duduk di kelas 5 SD.
" Tapi nanti siapa yang menemani rohman, kak? " tanyanya.
" Tenang saja kan dirumah ada ayah dengan ibu ditambah sebentar lagi kita punya adik baru, jadi kamu harus patuh dengan ayah dan ibu". Lanjut ku pada rohman.
"Tapikan jelas berbeda dengan kakak" rohman menjawab sambil meneteskan airmatanya.
" Sudah jangan mengeluh dan menangis lagi kamu kan laki-laki jadi gag boleh menangis. Nanti kalau kakak pulang, kakak belikan mainan buat rohman tp rohman harus janji rajin belajar dan ibadahnya tidak boleh lalai, buat kakak bangga" kata ku pada rohman sambil menangis.
" Baik lah kak tapi kakak juga tidak boleh menangis lagi dan jangan lupakan rohman ya?". Jawab rohman.
" Tentu saja sayang kakak akan selalu ingat dengan mu" kataku pada rohman sembari mengusap air mata ku dipipi. Akhirnya aku meninggalkan rumah dan pamit pada ayah dan ibu, teringat selalu wajah rohman selama diperjalanan tanpa ku sadari air mata menetes dari mata ku.
" Aku harus tegar demi rohman dan menepati janjiku pada ibu" kata ku dalam hati.


Tanpa terasa empat tahun sudah kepergian ku dari rumah untuk bekerja. Kadang ku mengambil libur untuk menjenguk rohman, dan tentu saja gajih yang kuhasilkan dari bekerja ku sisihkan untuk uang sekolah rohman. Masih teringat saat ku belikan dia mobil mainan yang tidak seberapa harganya, terlihat senyuman kebahagiaan dari wajahnya yang membuatku selalu menangis bila mengingatnya karena kebhagianya adalah kebahagianku juga. Tanpa terasa pula rohman sudah menginjak kelas tiga SMP, yang berarti dia akan segera lulus dan akan melanjutkan sekolah keSMA. Sempat aku mendengar percakapan ayah dengan ibu tiriku saat aku pulang kerumah , bahwa setelah rohman lulus SMP nanti tidak akan dilanjutkan sekolahnya. Dengan alasan terbatasnya ekonomi, diambah kedua adikku dari ayah dan ibu tiri sudah mulai mengenyam pendidikan. Jadi kemungkinan besar rohman tidak akan melanjutkan sekolah. Teringat ku pada janjiku dengan ibu untuk menjaga rohman, sehingga ku putuskan untuk menyekolahkanya kelak dengan jerih payahku sendiri.

Tanpa terasa akhirnya rohman lulus dari SMP, mendengar kabar itu aku putuskan untuk libur bekerja untuk beberapa hari. Sesampai dirumah aku mendengar bahwa rohman menangis karena tidak diijinkan untuk melanjutkan sekolah. Hati ini sangat terpukul mendengarnya, akhirnya aku putuskan memberanikan diri untuk membawa rohman kekota untuk aku sekolahkan.
" Rohman sudah jangan menangis lagi, kamukan laki-laki jadi harus tegar dan jangan mudah nangis" kata ku pada rohman yang sedang menangis dikamar.
"Iya kak tapikan rohman masih mau sekolah" katanya sambil tersedu-sedu.
" Ya sudah jangan menangis lagi, nanti kamu ikut kakak kekota dan kakak usahakan kamu kakak sekolahkan" kata ku pada rohman sembari memeluknya.
" Benar ya kak?, rohman janji akan bantu kakak dan patuh dengan kakak " katanya pada ku.
" Iya tentu saja, nanti kakak yang minta ijin pada ayah" lanjut ku pada rohman.

Akhirnya aku minta ijin pada ayah membawa rohman kekota untuk sekolahkan, lagi pula rohman lulus dari SMP dengan nilai terbaik disekolahanya, jadi akan sangat rugi bila memberhentikan rohman sekolah padahal dia sangat berbakat dan pintar.

            Hingga suatu hari aku menikah dengan orang yang aku sayangi. Yang membuat ku bersedia dia menyunting ku, karena dia juga bersedia untuk membantuku menyekolahkan rohman. Sebut saja namanya adalah parlan, parlan adalah seorang lelaki yang sangat berbeda dengan laki-laki lain, yang lebih penting dia adalah imam yang sangat pantas buat keluarga karena dia termasuk orang yang sholeh. Setelah dua tahun menikah kami memiliki seorang anak laki-laki yang kami beri nama Paris. Tanpa terasa juga rohman sudah lulus dari SMA dengan nilai yang terbaik di Sumatera Selatan. Perasaan bangga menjadi kakaknya memang tak bisa terhitung lagi, jerih payahku menyekolahkanya pun sudah terbayarkan dengan keberhasilanya.

Karena nilai rohman yang sangat baik itu, akhirnya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun, karena semuanya sudah ditanggung pemerintah Sumatra Selatan. Sehari sebelum rahman pergi kejakarta aku sempat bicara empat mata dengannya.
" Terima kasih , atas bersedianya kakak menjadi ibu ke-dua buat rohman, sehingga rohaman menjadi begini" kata rohman pada ku.
" Sudahlah kakak sudah merasa terbayar dengan semua prestasi yang kau berikan ini" kataku pada rohman sambil meneteskan air mata.
" Tapi rohman merasa belum seberapa, dengan apa yang kakak berikan selama ini, suatu hari nanti setelah rohman menjadi orang sukses, rohman berjanji akan membahagiakan kakak dan tidak akan ada airmata lagi dihidup kakak." kata rohman pada ku sembari mengusap airmataku.
Air mata ku pun mengalir membasahi pipi walau telah diusap oleh rohman, dan ku peluk adikku sampai hati ini merasa puas. Hari dimana rohman akan pergi ke-Jakarta pun tiba, sedih bercampur bangga menjadi satu, do'a akan selalu menyertai adikku tersayang yang selamanya akan selalau begitu. Janji pada ibu pun terasa sudah sedikit terbayar, aku harap kelak rohaman dan anak ku paris menjadi orang yang sukses dan hidupnya selalu bahagia. Aku tidak mau, bila nasib orang yang aku sayangi, terutama anak ku kelak sama nasibnya sepertiku yang selalu dihantui oleh penderitaan.